Bondowoso,Cakrawala.One-Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Bondowoso mempertanyakan data terkait angka putus sekolah yang tercatat mengalami kenaikan. Pasalnya, berdasarkan kondisi faktual di lapangan, anak usia sekolah khususnya tingkat SMP yang benar-benar tidak mengenyam pendidikan kini nyaris tidak ditemukan.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso, Taufan Restuanto, mengatakan bahwa kenaikan angka putus sekolah yang muncul dalam data tersebut tergolong sangat kecil dan tidak mencerminkan kondisi riil di masyarakat.
“Kalau secara data memang ada kenaikan, tapi itu sangat kecil sekali. Sementara di lapangan, angka putus sekolah di Bondowoso ini sebenarnya sudah sangat luar biasa kecil,” katanya saat dikonfirmasi, Kamis (15/1/2026).
Ia menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Bondowoso selama ini telah menjalankan berbagai program untuk menekan angka anak tidak sekolah. Untuk anak usia sekolah, intervensi dilakukan melalui sekolah formal, sedangkan untuk masyarakat di luar usia sekolah difasilitasi melalui jalur pendidikan nonformal seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
“Untuk non-usia sekolah, sudah ada PKBM sebagai pendidikan nonformal. Program ini berjalan dan terus kita dorong,” jelasnya.
Namun demikian, Taufan mengaku masih mempertanyakan mengapa angka anak putus sekolah kembali muncul dalam pendataan terbaru. Oleh sebab itu, Dispendik berencana melakukan koordinasi dengan Badan Pusat Statistik (BPS) guna mengklarifikasi metode serta hasil pendataan tersebut.
Baca Juga:Usulan Penghentian Ekspor BBL Direspons Pemerintah, Gus Lilur Sampaikan Terima Kasih kepada Presiden
“Kami akan koordinasi dengan BPS. Harapannya, ke depan pendataan ini bisa lebih akurat dan ada perubahan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya,” katanya.
Menurut Taufan, saat ini anak-anak usia SMP yang tidak sekolah hampir tidak ditemukan di tengah masyarakat. Hal itu didukung oleh keterlibatan aktif pemerintah desa dalam pendataan dan pengawasan anak usia sekolah.
“Sekarang ini, anak SMP yang tidak sekolah itu sudah sangat susah dicari, bahkan hampir tidak ada. Pemerintah desa juga sudah sering kita libatkan dalam berbagai program,” tegasnya.
Ia menambahkan, berbagai program penanganan anak tidak sekolah telah dijalankan sejak beberapa tahun terakhir, termasuk melalui kegiatan berbasis desa dan program pemberantasan anak putus sekolah.
“Programnya sudah banyak dan berjalan. Kalau melihat kondisi ini, kemungkinan besar faktor eksternal yang lebih mempengaruhi munculnya angka tersebut,” pungkasnya.(Sus)












